Permasalahan anak dan media di Indonesia

Setidaknya ada 3 hal penting yang perlu disimak dalam menelaah interaksi antara anak dengan media massa: Pertama, intervensi media terhadap kehidupan anak akan makin bertambah besar dengan intensitas yang semakin tinggi. Pada saat budaya baca belum terbentuk, budaya menonton televisi sudah sangat kuat. Kedua, kehadiran orangtua dalam mendampingi kehidupan anak sehari-hari akan semakin berkurang akibat pola hidup masyarakat modern yang menuntut aktivitas di luar rumah. Ketiga, persaingan bisnis yang makin ketat antar media dalam merebut perhatian khalayak termasuk anak-anak telah mengabaikan tanggungjawab sosial, moral, dan etika, serta pelanggaran hak-hak konsumen. Hal ini diperparah dengan sangat lemahnya regulasi di bidang penyiaran.

Dalam konteks siaran televisi, maka dampak negatif menonton siaran televisi ejak dulu selalu menjadi perdebatan panjang. Dari kalangan media pada umumnya bertahan dengan pendapat bahwa kalau pun dampak tersebut muncul maka hal itu lebih disebabkan karena kondisi khusus audience, atau lebih disebabkan karena faktor-faktor lain. Di tingkat masyarakat, umumnya meyakini bahwa siaran televisi dapat menimbulkan dampak-dampak negatif pada pemirsanya, terutama kelompok yang rentan seperti anak-anak. Dampak tersebut bisa muncul di tingkat peniruan baik seketika maupun tertunda, adopsi

sikap dan perilaku, referensi terhadap tindakan, perilaku konsumtif, sampai pada moral dan etika.

Munculnya berbagai dampak tersebut, pada umumnya dapat dilihat sebagai akibat dari kurangnya pemahaman orangtua dalam mengatur dan menjembatani interaksi anak dengan televisi. Dalam berbagai kesempatan pertemuan dengan orangtua dan guru, mereka merasa tidak berdaya dalam menghadapi persoalan ini. Mereka lebih meletakkan harapan pada peran pemerintah dan industri penyiaran televisi agar mendisain ulang program siaran mereka yang sesuai dengan nilai-nilai dan budaya Indonesia sehingga tidak berpengaruh buruk pada anak-anak. Sikap ketidakberdayaan inilah yang harus dikikis dengan memberikan penyadaran bahwa kuncinya bukanlah pada orang lain atau pihak lain, tetapi ada pada si orangtua dan anak itu sendiri. Karena, baik pemerintah maupun industri penyiaran televisi adalah dua pihak yang pada saat ini tidak bisa diharapkan dan tidak akan mampu memenuhi harapan para orangtua.  Mengapa? Karena sejak 4 tahun yang lalu pemerintah, DPR, dan berbagai kelompok kepentingan masih tarik ulur mengenai Rencana Undang-Undang Penyiaran. Meskipun UU Penyiaran yang lama belum ditarik, namun UU tersebut tidak punya gigi karena tidak ada aturan pelaksanaannya (baik Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden, Keputusan Menteri, dsb). Kalau toh UU tersebut disyahkan bulan-bulan ini, masih diperlukan jalan yang panjang untuk bisa dilaksanakan. Sementara di pihak industri penyiaran, kondisi yang lawless ini sangat menguntungkan bagi bisnis mereka. Kuatnya motivasi bisnis dalam program siaran mereka berakibat pada lemahnya kontrol terhadap kualitas, dan lebih berorientasi pada memenuhi keinginan khalayak.

Orangtua juga perlu menyadari bagaimana industri televisi dan dunia bisnis dengan warna komersial yang kental telah menggiring anak-anak sebagai target pemasaran produk-produk mereka, dan bagaimana mereka menanamkan brand image sebagai strategi pemasaran jangkan panjang melalui cara-cara yang sangat sistematis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: