HUKUM MENGAMALKAN HISAB DALAM MENENTUKAN MASUK DAN KELUARNYA BULAN RAMADHAN

Oleh
Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thayyar

Allah Ta’ala berfirman:

“Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah dia berpuasa”.[Baqarah: 185]

Nabi al-Musthafa Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits:

“Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal bulan Ramadhan) dan berbukalah (tidak berpuasa) karena melihatnya pula. Dan jika awan menaungi kalian, maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya’ban menjadi 30 hari…” [1]

Kedua nash di atas dan juga yang lainnya menunjukkan secara jelas dan pasti bahwa titik fokus masuk dan keluarnya bulan Ramadhan itu ada pada ru’yah atau penyempurnaan hitungan bulan Sya’ban atau Ramadhan menjadi tiga puluh hari. Keduanya merupakan tanda yang sangat jelas yang dapat dilakukan dan difahami oleh setiap orang. Pada keduanya tidak terkandung kesulitan, kepayahan dan kesusahan. Demikian itulah yang berlaku pada semua taklif (beban) syari’at, di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala menghilangkan kesulitan darinya.

Mahabenar Allah Yang Mahaagung yang telah berfirman:

“Dan sekali-kali Dia tidak menjadikan untukmu dalam agama suatu kesempitan…”[Al-Hajj: 78]

Orang-orang yang memfokuskan masuk dan keluarnya bulan Ramadhan dengan hisab, pasti akan memberikan kesulitan dan keberatan kepada orang banyak. Hisab cenderung mempunyai tingkat kesalahan yang lebih besar. Yang demikian merupakan suatu hal tersembunyi yang tidak diketahui oleh setiap orang. Tidaklah mungkin Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan suatu perintah syari’at yang memberatkan para hamba-Nya. Mahatinggi Allah dari hal tersebut.

Para ulama telah menarik kesimpulan dari as-Sunnah, ijma maupun logika dalam hal tersebut.

Adapun dalil dari as-Sunnah adalah sebagai berikut:

1. Hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebut Ramadhan, lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Janganlah kalian berpuasa sehingga kalian melihat hilal (bulan Ramadhan) dan jangan pula kalian tidak berpuasa sehingga kalian melihatnya. Dan jika awan menyelimuti kalian, maka perkirakanlah untuknya.”

2. Hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

“Sesungguhnya

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: