Belajar dari Thomas Alpa Edison.

Oktober 16, 2009

Kalau ditanya pada anak-anak jaman sekarang siapa yang tidak kenal dengan Thomas Alpa Edison.

Thomas edison mulai melakukam eksperimen selama masa kecilnya, kaena menganggap bahwa burung dapat terbang karena makan cacing maka ia memotong cacing dicampur dengan makanan dan memberikannya kepada seorang wanita tanpa sepengetahuan si wanita tersebut dan menunggu untuk mengetahui apakah si wanita tersebut dapat terbang.

eksprimen lainnya yang tidak berhasik ia lakukan adalah pada waktu kecil ia duduk di atas sejumlah telur untuk mengetahui apakah ia bisa menetaskannya..

Ketika melakukan ratusan eksprimen yang gagal, ia akhirnya menemukan dan mendapatkan paten untuk 2500 barang, termasuk lampu listrik yang dia anggap membawa tawa dan terang kepada manusia namun banyak yang menertawakannya.

Tanpa putus asa edison melakukan 1000 eksperimen yang tidak berhasil untuk membuat lampu listrik. Saat orang-orang mengatakan ia buang-buang waktu dan energi dia malah berujat setiap melakukan eksperimen aku mendapat hasil baru. kegagalan merupakan batu loncatan untuk menuju kesuksesan.

Setelah memberikan lampu listrik kepada manusia Edison mengatakan telah menemukan tujuannya di awal 1880, dan ia menuai banyak pujian. orang-orang menyadari bahwa penemuan Edison tahap demi tahap, Hujan maupun Angin, tetap konstan terhadap cuaca buruk. Seperti yang diharapkannya, Edison memberikan Cahaya dan tawa bagi umat manusia.


Permasalahan anak dan media di Indonesia

Oktober 15, 2009

Setidaknya ada 3 hal penting yang perlu disimak dalam menelaah interaksi antara anak dengan media massa: Pertama, intervensi media terhadap kehidupan anak akan makin bertambah besar dengan intensitas yang semakin tinggi. Pada saat budaya baca belum terbentuk, budaya menonton televisi sudah sangat kuat. Kedua, kehadiran orangtua dalam mendampingi kehidupan anak sehari-hari akan semakin berkurang akibat pola hidup masyarakat modern yang menuntut aktivitas di luar rumah. Ketiga, persaingan bisnis yang makin ketat antar media dalam merebut perhatian khalayak termasuk anak-anak telah mengabaikan tanggungjawab sosial, moral, dan etika, serta pelanggaran hak-hak konsumen. Hal ini diperparah dengan sangat lemahnya regulasi di bidang penyiaran.

Dalam konteks siaran televisi, maka dampak negatif menonton siaran televisi ejak dulu selalu menjadi perdebatan panjang. Dari kalangan media pada umumnya bertahan dengan pendapat bahwa kalau pun dampak tersebut muncul maka hal itu lebih disebabkan karena kondisi khusus audience, atau lebih disebabkan karena faktor-faktor lain. Di tingkat masyarakat, umumnya meyakini bahwa siaran televisi dapat menimbulkan dampak-dampak negatif pada pemirsanya, terutama kelompok yang rentan seperti anak-anak. Dampak tersebut bisa muncul di tingkat peniruan baik seketika maupun tertunda, adopsi

sikap dan perilaku, referensi terhadap tindakan, perilaku konsumtif, sampai pada moral dan etika.

Munculnya berbagai dampak tersebut, pada umumnya dapat dilihat sebagai akibat dari kurangnya pemahaman orangtua dalam mengatur dan menjembatani interaksi anak dengan televisi. Dalam berbagai kesempatan pertemuan dengan orangtua dan guru, mereka merasa tidak berdaya dalam menghadapi persoalan ini. Mereka lebih meletakkan harapan pada peran pemerintah dan industri penyiaran televisi agar mendisain ulang program siaran mereka yang sesuai dengan nilai-nilai dan budaya Indonesia sehingga tidak berpengaruh buruk pada anak-anak. Sikap ketidakberdayaan inilah yang harus dikikis dengan memberikan penyadaran bahwa kuncinya bukanlah pada orang lain atau pihak lain, tetapi ada pada si orangtua dan anak itu sendiri. Karena, baik pemerintah maupun industri penyiaran televisi adalah dua pihak yang pada saat ini tidak bisa diharapkan dan tidak akan mampu memenuhi harapan para orangtua.  Mengapa? Karena sejak 4 tahun yang lalu pemerintah, DPR, dan berbagai kelompok kepentingan masih tarik ulur mengenai Rencana Undang-Undang Penyiaran. Meskipun UU Penyiaran yang lama belum ditarik, namun UU tersebut tidak punya gigi karena tidak ada aturan pelaksanaannya (baik Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden, Keputusan Menteri, dsb). Kalau toh UU tersebut disyahkan bulan-bulan ini, masih diperlukan jalan yang panjang untuk bisa dilaksanakan. Sementara di pihak industri penyiaran, kondisi yang lawless ini sangat menguntungkan bagi bisnis mereka. Kuatnya motivasi bisnis dalam program siaran mereka berakibat pada lemahnya kontrol terhadap kualitas, dan lebih berorientasi pada memenuhi keinginan khalayak.

Orangtua juga perlu menyadari bagaimana industri televisi dan dunia bisnis dengan warna komersial yang kental telah menggiring anak-anak sebagai target pemasaran produk-produk mereka, dan bagaimana mereka menanamkan brand image sebagai strategi pemasaran jangkan panjang melalui cara-cara yang sangat sistematis


Menulis dan Hormon Endorfin

September 7, 2009

Menulis juga mempunyai efek kejiwaan, yang akan membuat suasana di dalam kelas menjadi lebih tenang terkendali. Menurut sebuah penelitian ilmiah yang dilakukan oleh Professor James Pennebaker, Ph.D., seorang pakar di bidang ilmu psikologi di University of Texas menyatakan bahwa menulis bisa menenangkan isi hati seseorang. Menuliskan perasaan atau kejadian yang membuat stress bisa menurunkan denyut jantung dan laju pernafasan seseorang (CNN.com health: Writing for Therapy Helps Erase Effects of Trauma, 16 Mei 2000). Menulis bisa menenangkan, menambah produksi hormon endorfin (hormon pembawa rasa bahagia dan senang) dan mengurangi hormon kortisol (hormon pencetus stress).

Sedangkan menurut Bisola Marignay, MA, konselor pada Writing Therapy, a creative approach di Amerika (Desember 2008), mengatakan bahwa menulis bisa meningkatkan kesadaran diri dan ilmu kehidupan akan kesadaran diri sangat berguna dalam menghadapi segala masalah dalam kehidupan yang juga akan membawa hasil positif dalam proses pembelajaran formal di sekolah maupun pembelajaran ilmu kehidupan. Sehingga menulis bisa juga dipakai sebagai terapi. Dan masih banyak penelitian ilmiah oleh pakar-pakar lainnya yang menyatakan bahwa menulis itu merupakan bagian penting dalam proses menemukan jati diri seseorang.