William Burchell Basyir Pickard

Agustus 4, 2008

Pengarang, Penyair dan Pengarang Cerita

“Semua anak dilahirkan disertai kecenderungan kepada agama fithrah
(Islam). Lalu ibu bapaknyalah yang menyebabkan anak menjadi Yahudi,
Nasarani atau Majusi.” Hadits riwayat Bukhari dan Muslim.

Dilahirkan sebagai orang Islam itu adalah suatu hakikat yang tidak saya
sadari, kecuali sesudah beberapa tahun kemudian. Di sekolah dan di
universitas, saya selalu sibuk, mungkin karena terlalu giat dengan soal-
soal dan tuntutan-tuntutan masa lalu. Saya tidak memperdulikan
pengalaman saya pada waktu-waktu yang sangat berharga itu, akan
tetapi pengalaman itu terus maju.

Dalam lingkungan masyarakat Kristen-lah saya mempelajari kehidupan
yang baik, berpikir tentang Tuhan, tentang ibadat dan tentang hidup
yang lurus. Jika saya waktu itu menilai sesuatu yang paling suci, maka
saya menganggap suci kepada keturunan dan keberanian.

Setelah lulus dari Cambridge University, saya pergi ke Afrika Tengah
bertugas sebagai pimpinan dalam Protectorat Uganda. Di sanalah saya
menemukan kehidupan yang baik dan cemerlang dan sepenuhnya
bertentangan dengan apa yang saya bayangkan pada waktu saya masih
ada di Inggris. Kebetulan tugas saya waktu itu mengharuskan saya hidup
di tengah-tengah saudara-saudara kita orang-orang kulit hitam yang
dalam segala pekerjaan saya tergantung kepada mereka, suatu
kesempatan yang menyebabkan saya bisa melihat pandangan hidup
mereka yang luas tetapi mudah.

Dunia Timur selalu menarik perhatian saya, dan di Cambridge saya
membaca cerita 1001 malam. Di Afrika sewaktu saya sedang duduk
sendirian, saya membacanya sekali lagi. Kehidupan saya yang berpindah-
pindah di Uganda, tidak mengurangi perhatian saya kepada dunia Timur.

Sewaktu saya mengalami waktu-waktu yang penting dalam kehidupan ini,
pecahlah perang dunia pertama, sehingga saya terpaksa pulang dengan
tergesa-gesa ke negeri saya di Eropa, di mana kesehatan saya menjadi
lemah. Setelah sembuh, saya melamar pekerjaan dalam ketentaraan,
akan tetapi sayang lamaran saya ditolak, karena alasan kesehatan. Lalu
saya datang ke barisan berkuda sukarela dan saya berhasil mengatasi
rintangan-rintangan kesehatan dengan satu dan lain cara. Sewaktu saya
mengenakan selempang barisan berkuda, saya merasa senang sekali.
Di Perancis sebelah barat saya ikut bertempur di medan Somme pada
tahun 1917, di mana saya mendapat luka dan ditangkap sebagai tawanan
perang.

Saya pergi ke Belgia, kemudian ke Jerman, di mana saya berbaris di rumah
sakit. Di Jerman saya melihat banyak orang yang menderita luka-luka,
terutama di kalangan orang-orang Rusia yang menderita disentri. Saya
hampir mati kelaparan, ketika saya tidak berguna buat orang-orang Jerman,
sedangkan tulang lengan kanan saya patah dan hanya mengalami kemajuan
sedikit saja. Lalu mereka mengirim saya ke sebuah rumah sakit di Swiss.

Saya ingat benar pada waktu itu nilai Al-Qur’an tidak mengecil dalam jiwa
saya. Pada waktu saya berada di Jerman, saya telah menulis surat minta
dikirim sebuah terjemahan Al-Qur’an dari Sale. Beberapa tahun kemudian,
tahulah saya bahwa terjemahan yang dimaksud telah dikirim kepada saya
tepat pada waktunya, akan tetapi tidak pernah sampai kepada saya.

Di Swiss kesehatan saya pulih kembali, sesudah mengalami operasi pada
lengan dan betis saya, sehingga saya bisa ke luar untuk berjalan jalan. Lalu
saya membeli satu terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Perancis, hasil karya
Sayary. Naskah itu pada saya sekarang merupakan sesuatu yang amat
berharga. Di dalamnya saya menemukan kebahagiaan, dan cahaya jiwa
saya memancar memenuhi hati saya dengan keberkahan.

Waktu itu tangan kanan saya masih lemah, sehingga terpaksa saya menulis
Al-Qur’an itu dengan tangan kiri.

Ketergantungan saya kepada Al-Qur’an terbukti kalau saya katakan bahwa
salah satu kenangan yang paling berkesan pada jiwa saya ialah cerita 1001
malam mengenai seorang pemuda yang kedapatan hidup menyendiri di tengah
kota mati. Dia membaca Al-Qur’an tanpa memperdulikan sekitarnya. Waktu
itulah di Swiss saya benar-benar telah menyerah kepada kehendak Allah s.w.t.
Tegasnya saya telah menjadi orang Islam.

Sesudah perang selesai, saya kembali ke London pada bulan Desember 1918,
dan kurang lebih tiga tahun kemudian, yakni pada tahun 1921 saya mengikuti
kuliah sastra pada London University. Di antara mata kuliah yang banyak itu,
saya pilih sastra Arab yang saya pernah ikuti kuliahnya di King’s College. Di
sinilah pada suatu hari profesor saya dalam bahasa Arab, alm. Mr. Belshah
dari Irak menerangkan tentang Al-Qur’an. Beliau berkata: “Tuan percaya atau
tidak, pasti Tuan akan menemukan Al-Qur’an sebagai Kitab yang menarik dan
patut dipelajari.”

Saya menjawab: “Tapi saya sungguh-sungguh percaya kepadanya.”

Pernyataan saya ini telah mengagetkan dan sungguh-sungguh menarik perhatian
Guru Besar saya itu. Setelah berbicara sebentar, beliau mengajak saya untuk
bersamanya pergi ke Mesjid London di Notting Hill Gate. Sesudah itu, saya
berulang kali datang ke Mesjid itu, sehingga pengetahuan saya tentang
peribadatan Islam semakin bertambah, dan sampailah saatnya pada permulaan
tahun 1922 saya mengumumkan ke-Islaman saya dan menggabungkan diri
dengan masyarakat Islam.

Hal itu telah berlalu lebih dari seperempat abad, dan sejak saat itulah saya hidup
sebagai orang Islam, baik secara teori maupun praktek, sekuat kemampuan saya
dalam hidup ini. Kekuasaan, Hikmat dan Rahmat Allah s.w.t. meliputi segala-
galanya. Dan lapangan ilmu pengetahuan terbentang luas tanpa batas di hadapan
saya, dan saya yakin bahwa “pakaian” yang paling cocok untuk dikenakan
sepanjang hidup saya ini ialah penyerahan diri kepada Allah, kepala saya
berserbankan tasbih dan tahmid dan hati saya penuh dengan rasa cinta kepada
SATU PENGUASA TERTINGGI.

Wal-hamdu lillaahi Rabbil-’aalamiin!

Tentang Pengarang : William Burchell Basyir Pickard
Beliau adalah Doktor dalam ilmu sastra dari London University. Beliau seorang
pengarang terkenal, dan salah satu karangannya ialah “Laila and Majnun”, “The
Adventures of Alcassim”, “A New World” dan lain-lain.

Mengapa Kami Memilih Islam
Oleh Rabithah Alam Islamy Mekah
Alih bahasa: Bachtiar Affandie
Cetakan Ketiga 1981
Penerbit: PT. Alma’arif, Bandung


Umar Mita

Agustus 4, 2008

Ahli Ekonomi, Tokoh Masyarakat dan Pengkhotbah Jepang

Dengan kurnia Allah s.w.t. saya telah dapat hidup berbahagia sebagai seorang
Muslim sejak tiga tahun yang lalu. Jalan hidup yang benar seperti yang
diajarkan oleh Islam itu ditunjukkan kepada saya oleh Missi Tablig Pakistan
yang telah mengunjungi negeri saya, dan kepada mereka saya merasa
berterima kasih sedalam-dalamnya.

Mayoritas rakyat negeri saya adalah Buddhist, tapi mereka hanya namanya
saja Buddhist. Mereka tidak mempraktekkan ajaran-ajaran Buddha, bahkan
mereka sama sekali tidak mengerti agama. Sebab utama dari sikap apatis ini
bisa jadi karena Buddhisme itu hanya memberikan ajaran-ajaran falsafah
tinggi rinci, tanpa memberikan ajaran praktis untuk pelaksanaan. Oleh karena
itulah, maka Buddisme itu jauh, tidak terjangkau oleh orang-orang biasa yang
selalu direpotkan dengan urusan-urusan duniawi.

Mereka tidak bisa memahaminya dan tidak pula bisa melaksanakannya.

Tidak demikian halnya dengan Islam. Sebab ajaran-ajaran Islam itu mudah,
luas dan sangat praktis, melihat segala segi persoalan hidup manusia. Islam
membentuk alam pikiran manusia, dan manakala pikiran itu sudah bersih/suci,
maka perbuatan bersih dan baik itu akan timbul dengan sendirinya. Ajaran
Islam itu begitu mudah dan praktis, sehingga setiap orang dapat mengerti.
Islam itu bukan monopoli kiai/pendeta seperti dalam agama lain.

Ada harapan besar buat Islam di masa yang akan datang di Jepang. Beberapa
kesulitan mungkin ada, tapi bukan kesulitan yang tidak bisa diatasi. Untuk itu
pertama-tama diperlukan usaha yang sungguh-sungguh dan terus-menerus
memperkenalkan ajaran-ajaran Islam kepada rakyat Jepang. Rakyat Jepang
dari hari ke hari menjadi semakin bersikap materialistis, tapi dengan itu
mereka tidak hidup berbahagia. Mereka harus diberi tahu bahwa keamanan
yang hakiki dan ketenangan jiwa hanya terjamin dengan ajaran-ajaran Islam,
sebab Islam itu adalah peraturan dan hukum yang sempurna buat hidup dan
memberikan bimbingan untuk setiap langkah kehidupan. Yang kedua, ialah
supaya para petugas tablig dan guru-gurunya memberi contoh dengan cara
hidup mereka sendiri di hadapan orang lain.

Adalah suatu hal yang tidak menguntungkan bahwa para pelajar/mahasiswa
yang datang ke Jepang dari berbagai negeri Islam tidak merupakan contoh
yang baik bagi kami, dan kamipun tidak mendapat nasehat atau bimbingan
dari mereka. Malahan kebanyakan mereka hidup seperti kehidupan orang
Barat. Mereka juga tidak mengerti apa-apa tentang Islam, karena mereka
itu belajar pada sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh negara-negara
Eropa yang kebanyakan menentang Islam.

Kalau Islam mau memperoleh sukses di Jepang — dan saya yakin bahwa hal
itu akan terjadi maka setiap pencinta dan pejuang Islam harus memikirkan
hal itu, dan untuk itu mereka wajib memberikan pengorbanan yang terus-
menerus dan terkoordinir. Dan kaum muslimin/mukminin yang cara hidupnya
sesuai dengan ajaran-ajaran agamanya harus datang ke Jepang untuk
mengajar dan memberikan contoh kepada mereka. Bangsa Jepang haus
kepada keamanan, kebenaran, kejujuran, keutamaan dan lain-lain hal yang
baik dalam kehidupan. Dan saya percaya sepenuhnya bahwa Islam dan hanya
Islam sajalah yang mampu menghilangkan kehausan mereka.

Kita harus percaya mutlak kepada Allah, sehingga kita mampu menunaikan
tugas risalah/missi ini. Kita bermohon kepada Allah s.w.t. supaya Dia
memberikan kepada kita iman dan yakin.

Islam berarti selamat/aman, dan tidak ada bangsa lain yang melebihi bangsa
Jepang dalam kebutuhannya kepada keamanan. Jika kita menghendaki
keamanan yang hakiki, maka kita harus percaya kepada agama Keselamatan, s
elamat/aman/damai dengan semua manusia dan Allah. Hal itu ialah karena
persaudaraan itu dalam Islam merupakan dasar yang tidak dimiliki oleh
agama-agama lain, dan persaudaraan itu adalah syarat untuk terwujudnya
kebahagiaan manusia seluruhnya.

Mengapa Kami Memilih Islam
Oleh Rabithah Alam Islamy Mekah
Alih bahasa: Bachtiar Affandie
Cetakan Ketiga 1981
Penerbit: PT. Alma’arif, Bandung


Thomas Muhammad Clayton (Amerika Serikat)

Agustus 4, 2008

Matahari telah melintasi garis tengah bumi, ketika kami berjalan melalui jalan tanah
dalam udara yang panas, kami mendengar suara nyaring dengan gaya lagu yang
bagus monoton memenuhi angkasa di sekitar kami. Kami melintasi satu daerah
yang penuh pohon-pohonan, ketika tiba-tiba kami melihat suatu pemandangan
yang mengherankan yang hampir mata kami tidak mempercayainya. Seorang Arab
yang buta, mengenakan pakaian yang bersih berserban putih, berdiri di atas menara
kayu yang nampak baru, seakan-akan dia menghadapkan suaranya ke langit. Tanpa
kami sadari, kami terduduk, seakan-akan langgam suaranya itu secara hipnotis telah
menyihir kami. Adapun kata-katanya yang sedikitpun tidak kami mengerti ialah:
ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR !!! LAA ILAAHA ILLALLAH !!!

Segala sesuatu di sekitar kami tenang, tidak ada yang memperdulikan pandangan
kami. Akan tetapi sesudah suara itu berakhir, kami melihat banyak orang berdatangan
dan berkumpul terdiri dari berbagai tingkat usia dan berbagai macam pakaian, dan
jelas kelihatan bahwa mereka terdiri dari berbagai macam tingkat sosial. Mereka
berbondong-bondong dengan sikap tenang dan khusyuk, lalu mereka menggelar tikar.
Orang banyak berdatangan ke tempat itu, sehingga kami menjadi bertanya-tanya
kapankan selesainya pertemuan ini?

Mereka pada membuka sandal dan duduk berjejer dalam barisan-barisan yang panjang,
yang satu di belakang yang lain. Tidak habis-habisnya keheranan kami dan tetap diam
membisu, karena tidak ada sesuatu tanda tentang tujuan pertemuan ini, yang banyak
menghimpun banyak orang kulit putih, kulit kuning dan kulit hitam, orang-orang fakir
miskin, orang-orang kaya, peminta-minta dan pedagang; yang satu duduk berdampingan
dengan yang lain, tanpa membeda-bedakan unsur kemanusiaan atau kedudukan sosial.
Tanpa kami perhatikan bahwa seseorang di antara yang berkumpul ini mengangkat
matanya di atas orang banyak yang ada di mukanya.

Jiwa persaudaraan yang meliputi pertemuan orang dengan segala perbedaannya ini telah
meninggalkan kesan yang tidak mungkin terhapus dari jiwa kami. Dan sekarang, setelah
lewat kurang lebih tiga tahun sejak peristiwa itu yang dua tahun di antaranya saya telah
menjadi seqrang Muslim, saya tidak habis-habisnya menemukan jiwa saya terbangun
dari tidur di tengah malam untuk mendengar lagi suara dan seruan yang indah dan
menarik itu, dan selalu saya melihat pertemuan orang banyak yang nampak semua
berwajah utama menghadap dengan sepenuh hati mereka yang dalam kepada Tuhan Al-
Khalik.

Mengapa Kami Memilih Islam
Oleh Rabithah Alam Islamy Mekah
Alih bahasa: Bachtiar Affandie
Cetakan Ketiga 1981
Penerbit: PT. Alma’arif, Bandung


Thomas Irving

Agustus 4, 2008

(Tokoh Masyarakat Kanada)

Sebelum saya menceritakan kisah saya memeluk Islam, saya berpendapat
ada baiknya kalau terlebih dahulu saya menceritakan pengalaman saya
sendiri sebelum dan sesudah mengetahui barang sedikit dasar-dasar Islam.
Dengan demikian saya tidak bermaksud hanya sekedar bercerita. Maksud
saya ialah menunjukkan bagaimana perkembangan pikiran beribu-ribu
pemuda Kanada yang lain dan Amerika, dan kesempatan yang diharapkan
oleh suatu dakwah Islam yang berhasil.

Saya ingat sesuatu yang sangat menggerakkan hati saya, pada waktu saya
masih seorang anak kecil, tentang penjelasan Kristen mengenai kehidupan
Yesus. Akan tetapi saya tidak bisa mengatakan bahwa waktu itu saya
menjadi orang Kristen atas dasar keyakinan saya sendiri. Kisah-kisah yang
tersebut dalam Injil itu tidak dapat menarik perhatian saya, ketika saya
bertanya-tanya dalam kekagetan tentang sebab banyaknya orang yang
tidak bertuhan di dunia dan tentang sebab adanya perbedaan antara Yahudi
dan Kristen mengenai Injil itu sendiri. Mengapa orang-orang yang tidak
percaya kepadanya dikutuk, pada hal itu bukan karena kesalahan mereka
sendiri? Lagi pula mengapa mereka mempraktekkan kebaikan sebagai suatu
ummat atau bangsa yang “maju”?

Saya ingat terutama kepada apa yang pernah dikatakan oleh seorang
anggota Missi Islam dari India tentang kekuatan kaum Muslimin memeluk
agamanya. Hal itu adalah untuk pertama kalinya saya mendengar tentang
Islam. Ucapan itu telah menyebabkan saya menghargai itu orang-orang yang
mantap dalam kepercayaannya, dan saya ingin mengetahui lebih banyak lagi
tentang orang-orang yang “terkutuk” itu.

Pada tahun pertama saya mempelajari kesusastraan Timur, saya membaca
tentang perkembangan pikiran kemanusiaan dalam usahanya mengenal Allah.
Yesus diangkat tinggi dalam gambarannya sebagai “tuhan yang pengasih”.
Akan tetapi gambaran ini hilang lenyap di tengah-tengah awan pengaruh do’a/
sembahyang yang tidak bisa dimengerti dan ucapan-ucapan keberhalaan. Dan
sifat “kasih sayangnya” itu menjadi kabur dibalik gambarannya pada waktu
yang bersamaan sebagai “tuhan yang maha tinggi” yang tidak mungkin dicapai
kecuali dengan melalui seorang perantara.

Dunia membutuhkan seseorang yang membimbing dan menunjukkannya
kepada sumber kebenaran yang bersih, mengetahui Tuhan Yang Maha Esa.
Benua Eropa masih tetap berada pada semacam Barbarisme di bawah pengaruh
khurafat kebangsaan yang sempit dan matinya kebudayaan yang turun temurun
di bawah teori pengasuhan gereja yang sempit. Timur adalah pusat pemikiran
dan wahyu. Di sanalah datang Muhammad s.a.w. sesudah 7 abad dari Isa a.s.,
an keberhalaan Kristen telah berakar kuat di Eropa sebelum pelajaran-pelajaran
rasional dimulai; tidak memperdulikan wahyu selama 9 abad.

Akhirnya saya dapat menerima pengertian bahwa Muhammad s.a.w. diutus oleh
Tuhan karena beberapa sebab. Pertama, karena memang kebutuhannya telah
dirasakan. Kedua, kesimpulan saya sendiri cocok dengan apa yang diajarkan
olehnya. Ketiga, terpisah dari kedua soal tadi, kepercayaan dan keimanan yang
tercurah atas hati saya terhadap kesucian Al-Qur’an dan ajaran-ajaran Rasulullah
s.a.w.

Pada waktu itu juga saya telah menerima dan juga membeli beberapa bacaan
tentang Islam. Seorang budiman India dari Bombay, almarhum Mr. Q-A.
Jairazbhoy telah mengirimi saya buku “What is Islam!” karangan H.W. Lovegrove.
Ini mungkin merupakan keterangan yang paling praktis yang telah saya baca dan
tersebar luas. Kemudian beliau mengirim saya tafsir Al-Qur’an dari Muhammad Ali
dan buku-buku serta siaran-siaran lainnya. Di Montreal saya berhasil mendapatkan
buku-buku tentang Islam dalam bahasa Perancis, berisi pikiran-pikiran yang pro
dan yang kontra, dan inipun membantu dan memperluas pemikiran saya.

Mengapa Kami Memilih Islam
Oleh Rabithah Alam Islamy Mekah
Alih bahasa: Bachtiar Affandie
Cetakan Ketiga 1981
Penerbit: PT. Alma’arif, Bandung


T.H. McBarkli (Irlandia)

Agustus 4, 2008

Saya hidup dalam lingkungan para penganut aliran Protestan, dan sejak kecil saya merasa tidak puas dengan ajaran-ajaran ke-Kristenan. Maka sesudah saya masuk universitas, keraguan saya itu menjadi kenyataan, sebab agama Kristen –seperti yang saya lihat– sedikit sekali artinya, atau bahkan bukan apa-apa buat saya. Dalam keputusasaan saya untuk menemukan kepercayaan yang mengandung segala nilai yang saya cita-citakan, saya telah mencoba memberi kepuasan kepada jiwa saya dengan cara menggambarkan suatu kepercayaan yang tidak begitu jelas memancar dari dalam jiwa saya. Pada suatu hari saya mendapat sebuah buku yang berjudul ‘Islam and Civilization.’ Belum selesai saya membaca buku itu, sudah ternyata bagi saya bahwa aliran yang ditunjukkan oleh buku itu hampir semuanya mengandung apa yang telah saya khayalkan mengenai kepercayaan. Toleransi Islam bertentangan dengan fanatisme aliran-aliran Kristen, ilmu pengetahuan dan kemajuan negeri-negeri Islam pada abad pertengahan berlawanan dengan kebodohan dan khurafat yang merajai negeri-negeri lain pada waktu yang sama, dan teori logis dari Islam mengenai pembalasan atau hukuman terhadap segala amal perbuatan manusia merupakan tantangan terhadap teori penebusan dosa manusia yang diajarkan oleh Kristen. Semua itu merupakan soal-soal yang meyakinkan saya. Akhirnya saya yakin atas kebenaran ajaran Islam yang luas meliputi seluruh alam kemanusiaan, untuk yang kaya dan yang miskin secara sama rata, bisa dan mampu melenyapkan segala rintangan yang ada antara segala aliran dan warna kulit. Mengapa Kami Memilih Islam Oleh Rabithah Alam Islamy Mekah Alih bahasa: Bachtiar Affandie Cetakan Ketiga 1981 Penerbit: PT. Alma’arif, Bandung


Sir Jalaluddin Louder Brunton

Agustus 4, 2008

Negarawan dan Bangsawan Inggris

Sungguh saya sangat merasa bahagia dengan kesempatan ini untuk
menceritakan dalam kata-kata yang singkat tentang sebab saya
memeluk agama Islam. Padahal saya dilahirkan dan dibesarkan
dalam pangkuan orang tua yang beragama Kristen.

Sejak kecil, saya sudah tertarik dengan ilmu teologi, dan saya
menggabungkan diri dengan lingkungan Gereja Inggris dan turut
memberikan perhatian terhadap pekerjaan Misi tanpa ikut serta
dalam usaha pelaksanaannya.

Sejak beberapa tahun yang lalu, saya memperhatikan doktrin “Eternal
Torment/Siksa Abadi” buat seluruh umat manusia, kecuali beberapa
orang pilihan. Doktrin ini sangat membingungkan saya, sehingga saya
menjadi ragu-ragu atas kebenarannya.

Saya berpendapat bahwa Tuhan yang menciptakan manusia dengan
kekuasaan-Nya dan terlebih dahulu mengetahui di alam gaib bahwa
hari depan mereka pasti masuk dalam siksaan yang kekal itu bukan
Tuhan yang bijaksana, adil dan welas asih. Kedudukan-Nya lebih
rendah daripada manusia kebanyakan.

Namun demikian, saya tetap percaya atas adanya Tuhan, hanya saya
tidak dapat menerima kepercayaan umum yang mengatakan bahwa
Tuhan menjelma menjadi manusia. Kemudian saya perhatikan
kepercayaan dan ajaran-ajaran agama lain, malah saya semakin
bingung. Akan tetapi dalam keadaan seperti itu, saya bahkan semakin
bersemangat untuk beribadah kepada Tuhan yang sebenarnya dan
menyesuaikan diri dengan jalan hidup yang ditunjuk-Nya.

Mereka mengatakan bahwa kepercayaan-kepercayaan Kristen itu
berdasarkan isi Bible, akan tetapi ternyata saya lihat bertentangan.
Mungkinkah Bible dan ajaran-ajaran Kristus telah diubah? Kemudian
saya kembali mempelajari Bible secara mendalam, akan tetapi saya
tetap merasakan adanya kekurangan-kekurangan.

Dalam keadaan demikian, saya mengambil keputusan bahwa saya
akan melakukan pembahasan sendiri, dengan mengkesampingkan
Sesudah saya yakin atas perlunya penyelidikan/pembahasan sendiri
tentang kebenaran secara mendalam, sesudah bersusah payah
akhirnya sampailah saya menemukan “mutiara yang sangat berharga.”
Saya kembali menghabiskan waktu untuk mempelajari Islam. Ada
sesuatu dalam Islam yang waktu itu meresap dalam jiwa saya.

Di Ichra, sebuah kampung yang terpencil dan tidak dikenal, saya
menghabiskan waktu dan kesungguhan untuk melaksanakan perintah
Allah Yang Maha Agung dalam lingkungan masyarakat klas terendah,
karena didorong oleh keinginan ikhlas untuk meningkatkan pengetahuan
mereka tentang Allah Yang Haqq, yang tiada Tuhan selain Dia, dan untuk
meresapkan rasa persaudaraan dan kemanusiaan pada jiwa mereka.

Tidak perlu saya tegaskan kepada anda kesungguhan saya yang
tercurah di kalangan mereka, tidak pula perlu menceritakan betapa
beratnya pengorbanan saya dan rintangan-rintangan yang saya jumpai,
namun saya berjalan terus, sebab bagi saya tiada jalan lain selain yang
menuju tercapainya kebahagiaan masyarakat, material dan spritual.

Selanjutnya saya pelajari sejarah hidup Nabi Muhammad saw., sebab saya
baru sedikit saja mengenal apa yang beliau lakukan untuk kemanusiaan.
Akan tetapi saya tahu dan merasa bahwa umat Kristiani telah sepakat
untuk mengingkari kebenaran Nabi Besar yang lahir di tanah Arab ini. Pada
waktu itu saya mengambil keputusan untuk mempelajari masalah ini tanpa
rasa fanatik dan dengki, sehingga dalam waktu yang tidak lama, saya telah
mendapat keyakinan bahwa tidak mungkin ada satu keraguan yang bisa
masuk ke dalam kesungguhan dan kebenaran dakwahnya kepada Allah
s.w.t. Saya yakin bahwa tidak ada kesalahan yang paling besar daripada
mengingkari ke-Nabian orang suci ini, yakni sesudah saya mempelajari apa
yang beliau berikan kepada kemanusiaan.

Orang-orang yang keras kepala penyembah patung berhala, yang telah
tenggelam dalam lautan dosa dan kerendahan budi dan penuh dengan
keburukan-keburukan, beliau beri pelajaran bagamana mengenakan
pakaian dan bagamana membersihkan kotoran. Beliau bangkitkan dalam
jiwa mereka rasa harga diri, sehingga sifat keramahan menjadi kewajiban
keagamaan. Patung-patung berhala mereka hancurkan dan mereka
menyembah Tuhan yang benar, satu-satunya. Kaum Muslimin menjadi
masyarakat paling kuat di dunia. Dan lain-lain pekerjaan mulia yang sudah
beliau selesaikan, yang jumlahnya terlalu banyak untuk diterangkan satu
persatu.

Dengan adanya bukti-bukti tersebut, yang menunjukkan keluhuran ajaran-
ajaran Rasul s.a.w., maka sungguh sangat menyedihkan adanya tuduhan dan
cercaan yang dilancarkan oleh orang-orang Kristen terhadap pribadi dan
kedudukannya sebagai Rasul. Saya terus berpikir secara mendalam, dan di
tengah-tengah pemikiran itu datanglah sahabat saya seorang India bernama
Miyan Amiruddin bertamu ke rumah saya. Sungguh aneh sekali, kedatangannya
itu telah benar-benar mempengaruhi jiwa saya. Dia telah mengobarkan
semangat saya. Saya berpikir dan bertukar pikiran tentang ajaran-ajaran agama
Kristen, aliran ,demi aliran. Akhirnya saya mengagungkan agama Islam yang
telah memberi kepuasan kepada saya. Saya percaya bahwa Islam adalah agama
yang hak/benar, agama yang mudah dan penuh toleransi, agama yang penuh
keikhlasan daiam cinta-mencintai dan persaudaraan.

Saya hanya tinggal punya waktu sedikit saja hidup di dunia ini. Oleh karena itu,
maka saya bertekad untuk menghabiskan seluruh waktu yang masih ada dari
hidup saya untuk menegakkan agama Islam.

Tentang Pengarang: Sir Jalaluddin Louder Brunton belajar di Oxford University,
dan beliau adalah seorang bangsawan Inggris yang terkenal.

Mengapa Kami Memilih Islam
Oleh Rabithah Alam Islamy Mekah
Alih bahasa: Bachtiar Affandie
Cetakan Ketiga 1981
Penerbit: PT. Alma’arif, Bandung


Sir Abdullah Archibald Hamilton

Agustus 4, 2008

Negarawan dan Bangsawan Inggris

Sejak saya menginjak usia dewasa, keindahan, kemudahan dan kemurnian Islam
itu selalu menarik perhatian saya. Walaupun saya dilahirkan dan dibesarkan
sebagai orang Kristen, sebenarnya saya tidak bisa percaya kepada dogma-dogma
yang diajarkan oleh Gereja, dan saya selalu menggunakan akal dan pikiran untuk
mengatasi keimanan yang membuta.

Berbareng dengan majunya zaman, saya menginginkan kedamaian dengan Maha
Pencipta saya, dan ternyata bahwa baik Gereja Roma maupun Gereja Inggris,
tidak ada yang bisa inemberikan kepuasan kepada saya.

Saya memeluk agama Islam, hanyalah untuk memenuhi panggilan hati nurani saya,
dan sejak itu saya merasa telah menjadi orang yang lebih baik dan lebih benar dari
pada sebelumnya.

Tidak ada satupun agama yang dimusuhi orang-orang jahil dan berprasangka seperti
agama Islam. Pada hal jika orang tahu, Islam itu adalah agama yang memberikan
kekuatan kepada orang yang lemah, dan memberikan rasa kecukupan kepada orang
yang miskin. Dan ternyata bahwa alam kemanusiaan itu terbagi menjadi tiga
golongan, yaitu:

1. Golongan yang dianugerahi Tuhan dengan harta kekayaan.
2. Golongan yang harus bekerja berat untuk mencukupi keperluan hidupnya.
3. Golongan penganggur yang tidak mendapat lapangan kerja atau mereka yang
jatuh pailit bukan karena kesalahan mereka sendiri.

Islam juga mengakui bakat luar biasa dan hak-hak perseorangan. Islam itu konstruktif
(membangun) bukan destruktif (merusak). Sebagai contoh, jika seorang pemilik tanah
yang kaya dan tidak butuh untuk menanaminya, sehingga dia tidak menggarap
tanahnya itu berulang kali, maka hak miliknya itu menjadi hak milik umum dan
menurut hukum Islam diberikan kepada orang yang pertama menanaminya.

Islam melarang keras penjudian atau permainan-permainan yang berdasarkan untung-
untungan. Islam melarang segala macam minuman keras dan mengharamkan riba
yang dapat menimbulkan penderitaan hidup manusia. Jadi dalam Islam, tidak
seorangpun boleh menarik untung dari keadaan orang lain yang kebetulan kurang
beruntung dalam hidupnya.

Kita (kaum Muslimin) tidak percaya kepada aliran Jabariyah (fatalism) yang hanya
menunggu nasib semata-mata, tidak pula percaya kepada aliran Qadariyah
(predestination) yang menganggap bahwa manusia menentukan nasibnya sendiri.
Kita hanya percaya kepada imbalan yang diberikan Allah s.w.t. atas perbuatan dan
pemikiran kita.

Menurut kita, iman atau kepercayaan yang tanpa perbuatan itu tidak ada artinya, sebab
iman itu saja tidak cukup, kecuali jika hidup kita sesuai dengan itu. Kita percaya kepada
adanya pertanggungan jawab kita sendiri atas segala perbuatan kita di dunia dan di
akhirat. Kita harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita, dan tidak ada
seorangpun yang bisa memikul dosa atau kesalahan orang lain.

Islam mengajarkan bahwa manusia diciptakan atas dasar fithrah, tanpa dosa. Islam juga
mengajarkan bahwa manusia, pria maupun wanita, berasal dari satu keturunan (Adam
dan Hawa), bahwa keadaan ruhnya sama, dan bahwa Allah s.w.t. inemberikan kekuatan
yang sama agar tiap-tiap manusia dapat menempuh hidup sesuai dengan yang
dikehendakinya menurut akal, jiwa dan moral.

Saya kira saya tidak perlu berbicara banyak tentang persaudaraan ummat manusia
universal dalam ajaran Islam, sebab hal itu sudah merupakan kenyataan yang diakui
oleh seluruh dunia. Bangsawan dan rakyat biasa, kaya dan miskin semua sama. Sungguh
saya telah melihat kejujuran dan kemurahan hati Saudara-saudara saya kaum Muslimin,
dan saya selalu percaya atas segala perkataan dan janji mereka. Mereka selalu
memperlakukan saya dengan adil sebagai manusia dan sebagai saudara, dan telah
membuktikan keramahan mereka kepada saya, sehingga saya tidak merasa asing dalam
lingkungan mereka.

Kesimpulan, saya ingin menyatakan bahwa pada waktu Islam membimbing ummat manusia
dalam kehidupannya sehari-hari, justru agama Kristen, dalam teori dan praktek
mengajarkan kepada para penganutnya supaya berdo’a dan bersembahyang kepada Tuhan
pada hari Minggu dan menerkam makhluk-Nya pada hari-hari selebihnya.

Tentang Pengarang : Sir Abdullah Archibald Hamilton
Sebelum memeluk agama Islam, beliau bernama Sir Charles Edward Archibald Watkin
Hamilton. Memeluk agama Islam pada tanggal 20 Desember 1923. Beliau adalah seorang
negarawan Inggris yang terkenal, mencapai tingkat kebangsawanan bermacam-macam.
Beliau lahir pada tanggal 10 Desember 1876, seorang Letnan dalam Royal Defence Corp dan
President Salsy Conservative Association.

Mengapa Kami Memilih Islam
Oleh Rabithah Alam Islamy Mekah
Alih bahasa: Bachtiar Affandie
Cetakan Ketiga 1981
Penerbit: PT. Alma’arif, Bandung


S. A. Board (Amerika Serikat)

Agustus 4, 2008

Pada tahun 1920, ketika saya sedang ada dalam sebuah kantor dari salah
seorang dokter, saya melihat sebuah Majalah “African Times and Orient
Review” yang terbit di London. Di dalamnya terdapat sebuah artikel
tentang Islam, dimana terdapat sebuah keterangan yang telah menarik
perhatian saya dan saya tidak akan pernah melupakannya, karena
memang sudah menjadi sebagian dari diri saya sendiri. Keterangan itu
berbunyi: Laa Ilaaha illallah, bahwa di seluruh alam raya ini hanya ada
satu Tuhan. Ini adalah satu milik yang tidak ternilai harganya; satu
kepercayaan yang tertanam dalam dada setiap orang Islam.

Segeralah sesudah itu saya menjadi seorang Muslim, dan saya telah
memilih nama Shalahuddin. Saya yakin bahwa Islam adalah agama yang
benar, karena. Islam tidak mempersekutukan Allah, dan Islam
mengajarkan kepada kita bahwa manusia itu sendiri bertanggungjawab
atas segala dosanya, sehingga seseorang itu tidak menanggung dosa
orang lain. Islam juga sesuai dengan fithrah (nature) yang menunjukkan
kepada kita bahwa tidak mungkin ada dua penanggung jawab atas satu
perbuatan, apakah perbuatan itu pada ladang, padang rumput, kota,
pemerintahan, ummat/bangsa atau dunia seluruhnya. Kenyataan lain yang
meyakinkan saya atas benarnya Risalah Islam, ialah bahwa Islam telah
membangunkan bangsa Arab dan mengeluarkannya dari kegelapan padang
pasir, menjadi satu bangsa yang tegak kuat, sehingga mereka menjadi
penjelajah dunia dengan bangunan Kerajaan baru dan mengumandangkan
nyanyian cinta dan kemenangan di lembah Andalusia. Pada waktu kaum
Muslimin datang di Spanyol, negeri ini masih merupakan “hutan belantara”,
kemudian mereka mengubahnya menjadi “kebun mawar” yang indah. Saya
mengucap puji dan syukur ke hadirat Allah s.w.t. yang telah menunjukkan
kebenaran melalu tulisan orang seperti John W. Draper yang dalam “The
Intelectual Development of Europe”nya telah menunjukkan kepada dunia
tentang peranan Islam yang besar dalam membangun kebudayaan modern.
Dia telah menyingkapkan ta’bir pemalsuan yang dilakukan oleh para penulis
sejarah Kristen untuk menutupi jasa Islam terhadap kemajuan Eropa.

Berikut ini tulisannya tentang keadaan orang-orang Eropa pada abad-abad
pertengahan yang ditemui oleh kaum Muslimin:

“Dari barbarismenya orang-orang Eropa yang hampir tidak seorangpun bisa
disebut telah meningkat maju dari tingkat biadab, badan mereka kotor, akal
mereka dungu, tempat tinggal mereka berupa dangau dengan lantai
beralaskan rumput dan berdinding jerami. Makanan mereka terdiri dari sayur-
sayuran, kacang-kacangan, pucuk-pucuk daun dan bahkan umbi-umbian.
Badan mereka berbalut kulit binatang tanpa disamak dan selendang buruk/
tua, yang jauh dari terpeliharanya kehormatan pribadi.”
Eropa banyak berhutang budi kepada Arab Muslim mengenai kebahagiaan
pribadi. Kebersihan secara Islam, dan kaum Muslimin tidak bisa mengenakan
apa yang digunakan sebagai selendang oleh orang-orang Eropa waktu itu,
selembar kulit binatang yang tetap melindungi dirmya sampai tua, kumal dan
berkoyak-koyak, tidak sedap dipandang mata, berbau busuk dan penuh kutu-
kutu. Bangsa Arab yang telah mampu menerangi jalan hidup ummat manusia
dan melepaskan mereka dari keputus-asaan serta kegelapan dan khurafat,
dan yang telah menyebabkan keturunan mereka menjadi pemimpin ummat
manusia dan berkedudukan tinggi di dunia. Itulah orang-orang Arab. Allah
mesti bersama mereka. Kehendak Allah s.w.t. mengubah wajah sejarah dunia
dengan jalan mengutus Muhanumad s.a.w. dan menurunkan Al-Qur’an. Tanpa
semua itu tidak mungkin ilmu pengetahuan modern dapat menemukan cahaya
kemajuan.

“Tuntutlah ilmu, walaupun di negeri China.” Demikian Muhammad s.a.w. bersabda.
ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAH, WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN RASULULLAH.

Mengapa Kami Memilih Islam
Oleh Rabithah Alam Islamy Mekah
Alih bahasa: Bachtiar Affandie
Cetakan Ketiga 1981
Penerbit: PT. Alma’arif, Bandung


Prof. Haroon Mustapha Leon

Agustus 4, 2008

Prof. Abdul-Ahad Dawud B.D.

Agustus 4, 2008

(Bekas Pendeta Tinggi pada David Bangamni Keldani, Iran)

Saya tidak bisa menghubungkan sebab-sebab saya memeluk Islam, kecuali
kepada petunjuk Allah RabbulAlamin. Tanpa petunjuk Allah, segala pelajaran
atau ilmu, pembahasan dan lain-lain usaha untuk menemukan kepercayaan
yang lurus ini bahkan mungkin menyebabkan orang tersesat. Dan seketika
saya percaya atas ke-Esaan Allah, jadilah Rasulnya, Muhammad s.a.w. itu
akhlak dan cara hidup saya.

Mengapa Kami Memilih Islam
Oleh Rabithah Alam Islamy Mekah
Alih bahasa: Bachtiar Affandie
Cetakan Ketiga 1981
Penerbit: PT. Alma’arif, Bandung